BINJAI — Suasana riang, tawa pecah, dan canda tanpa henti mewarnai Pemandian Alam Namu Sira-Sira pada Minggu (22/11/2025). Angan Zagoto SH, M.H, bersama sahabat karibnya Dedi, membawa kawan-kawan kecil sekampung dari Blok VI Perumnas Helvetia Medan menikmati akhir pekan dengan penuh kegembiraan dalam perjalanan wisata yang untuk pertama kalinya mereka lakukan bersama.

Sejak pagi, deretan nama—Poyer, Ambi, Budi P, Doly, Mio, Riyan, Mail, Lampos, Dedi Cemot, Heri Cepis, Zul Ismet, Dari, Reza, Riza, Andi, Mas Toyo, Moses, Roni Simamora, Bembeng, dan Pak Jhon—sudah tampak antusias menaiki empat mobil yang disiapkan khusus untuk membawa mereka menuju lokasi pemandian. Gelak tawa di dalam mobil seakan menggambarkan rasa persaudaraan yang kuat di antara mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sesampainya di Namu Sira-Sira, rombongan langsung berlarian menyambut segarnya air alami. Angan Zagoto, sang pengacara kondang yang juga panutan di kampungnya, bersama Dedi—pengusaha levelansir yang dikenal murah hati—turut serta bermain air, memastikan setiap sahabat kecil merasakan sukacita tanpa terkecuali.

Beberapa di antaranya memilih berendam santai, sementara yang lain saling ciprat air dengan ceria. Tidak ada batasan usia, tidak ada jarak. Kebahagiaan hari itu menyatukan semua dalam lingkaran tawa dan persahabatan.
Momen makan siang menjadi bagian paling hangat. Hidangan kearifan lokal yang diracik oleh Dedek Poyer—mulai dari nasi hangat dengan gulai ayam kampung, sambal andaliman, ikan asin hingga lalapan segar—terhidang sederhana namun begitu menggugah selera. Di saat sebagian menyantap makanan, sebagian lainnya bernyanyi karaoke, berjoget gembira, dan melepaskan penat seakan kembali ke masa kecil.

“Tujuan kami cuma satu, biar semua kawan-kawan senang dan punya kenangan kebersamaan yang indah,” ujar Angan sambil tersenyum lebar. Dedi, atau akrab disapa Tokeh, menimpali bahwa kegiatan seperti ini akan dijadikan tradisi. “Ke depan kita buat acara yang lebih besar. Kita bawa istri dan anak-anak. Kebahagiaan harus dibagi,” ujarnya.
Keceriaan sederhana ini menjadi bukti bahwa kebahagiaan tidak selalu ditentukan oleh kemewahan. Kebersamaan, kepedulian, dan tawa tulus sudah cukup menjadikan hari itu sempurna. Pemandian Namu Sira-Sira menjadi saksi bagaimana Angan, Dedi, dan seluruh kawan sekampung menikmati momen yang tak akan mudah dilupakan.
Di penghujung perjalanan, seluruh peserta tampak haru dan berulang kali menyampaikan terima kasih atas perhatian Angan dan Dedi dalam merawat persaudaraan mereka.
“Terima kasih Angan… terima kasih Dedi… kebahagiaan ini akan kami ingat selamanya. Kalian orang baik,” ujar Doly mewakili seluruh rombongan, menutup hari penuh sukacita itu. (red)





















