Tanjung Morawa —
Dalam suasana yang penuh keheningan dan haru, Ketua KB FKPPI Rayon 0202.02 Tanjung Morawa, Husen Tamora, menyampaikan rasa duka mendalam atas bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara. Momen itu terjadi saat dirinya melepas keberangkatan tim relawan kemanusiaan MAPEL yang dipimpin Osama Junior, Rabu (26/11/2025).
Dengan suara parau, Husen membuka sambutannya. Tak sekadar formalitas, ucapannya lahir dari empati yang tulus.
“Hati saya hancur mendengar kabar ini. Setiap korban adalah saudara kita. Mereka bukan sekadar angka dalam laporan — mereka adalah manusia yang kehilangan segalanya. Duka mereka adalah duka saya, duka kita semua,” ucapnya, membuat suasana hening seketika.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Data terbaru BPBD Sumut mencatat 13 korban meninggal dunia akibat bencana hidrometeorologi yang melanda tujuh kabupaten/kota.

Empat korban dari Tapanuli Tengah, dan sembilan dari Tapanuli Selatan — termasuk enam dari Batangtoru yang diterjang longsor, serta korban lainnya di Sipirok dan Angkola Barat.
Husen menundukkan kepala sejenak sebelum melanjutkan, seolah merasakan beban kehilangan yang dialami para keluarga korban.
“Saya ingin keluarga yang ditinggalkan tahu… kalian tidak sendiri. Kami di sini merasakan kepedihan yang sama. Kami mungkin tidak bisa menghapus air mata kalian, tapi kami berjanji hadir membawa sedikit kekuatan, sedikit harapan,” tuturnya dengan nada yang jelas bergetar.
Relawan MAPEL yang akan bertolak menuju Tapsel, Tapteng, dan Sibolga membawa bantuan awal. Namun bagi Husen, misi kemanusiaan itu punya makna lebih dalam.
“Bantuan itu penting, tetapi kehadiran kita jauh lebih penting. Kehangatan, kepedulian, dan sentuhan kemanusiaan itulah yang mampu membuat mereka bertahan di tengah kepedihan,” katanya.
BPBD juga melaporkan kerusakan hebat: 330 rumah rusak di Tapsel, puluhan keluarga mengungsi di Taput, jembatan terputus, lahan pertanian terendam, dan sejumlah warga luka-luka serta masih hilang.
Di tengah laporan kerusakan itu, Husen menegaskan komitmennya bahwa FKPPI tidak akan pernah berpaling dari rakyat.
“FKPPI hadir bukan hanya ketika situasi normal. Di saat duka, kami justru harus lebih dekat, lebih peka, lebih cepat. Kita mungkin tidak mampu mengganti yang hilang, tetapi kita bisa membantu mereka berdiri lagi,” ucapnya.
Husen kemudian memeluk beberapa relawan sebelum berangkat, sebuah gestur yang menegaskan betapa berat hatinya menyaksikan bencana yang menimpa Sumut.
“Sampaikan salam saya untuk saudara-saudara kita di sana. Bilang pada mereka… kami berduka bersama mereka, dan kami tidak akan membiarkan mereka menghadapi ini sendirian,” pesannya lirih.
Di tengah duka yang membelah Sumatera Utara, kata-kata Husen Tamora bukan hanya pesan, tetapi obat bagi hati yang luka — sebuah pengingat bahwa kemanusiaan masih hidup dan terus menyala. (red)





















